Namun kabar ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Ia bukan sekadar berita kelulusan doktoral. Ia kisah tentang seorang kyai dari kampung di Madura, Jawa Timur, yang menembus langit akademik dunia Islam dan kembali turun ke bumi ke desa, ke santri, ke umat. Juga ke bangsa.
Di Auditorium Imam Akbar Syaikh Abdul Halim Mahmud, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo, akhir Januari 2026, seorang pengasuh pesantren dari Torjun, Sampang, ditahbiskan sebagai doktor dengan yudisium yang hampir membuat bahasa akademik kehabisan kosakata.
Disertasinya setebal 847 halaman dalam dua jilid itu memperoleh predikat ๐๐ข๐ณ๐ต๐ข๐ฃ๐ข๐ต ๐๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ง ๐ข๐ญ-๐๐ญ๐ข ๐ฎ๐ข‘๐ข ๐ต๐ข๐ธ๐ด๐ฉ๐ช๐บ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช ๐ต๐ฉ๐ข๐ฃ‘๐ช ๐ข๐ณ-๐ณ๐ช๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ธ๐ข ๐ต๐ข๐ฅ๐ข๐ธ๐ถ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข ๐ฃ๐ข๐บ๐ฏ๐ข๐ญ ๐ซ๐ข๐ฎ๐ช‘๐ข๐ต summa cum laude dengan kehormatan tertinggi serta rekomendasi publikasi. Ini bukan sekadar nilai ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ต๐ข๐ป, tetapi ๐ฎ๐ถ๐ฎ๐ต๐ข๐ป ๐ฑ๐ญ๐ถ๐ด.
Nama kyai Madura itu: Dr. KH. Muhamad Aunul Abied Shah, Lc., M.A. Pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Torjun, Sampang disebut sebagai orang Madura pertama yang meraih doktor dari Universitas Al-Azhar dengan predikat akademik setinggi itu. Sebuah mumtaz yang diberi ekor pujian tambahan, seperti gelar bangsawan yang tidak muat di kartu nama.
Disertasinya berjudul Arab: ๐๐ญ-๐๐ต๐ต๐ช๐ซ๐ข̄๐ฉ ๐ข๐ฏ-๐๐ข๐ฒ๐ฅ๐ช̄ ๐ง๐ช̄ ๐ข๐ญ-๐๐ฉ๐ช๐ต̣๐ข̄๐ฃ ๐ข๐ญ-๐๐ข๐ญ๐ข̄๐ฎ๐ช̄ ‘๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข ๐๐ข๐ซ๐ฎ ๐ข๐ญ-๐๐ช̄๐ฏ ๐ข๐ญ-๐๐ข̄๐ต๐ช๐ฃ๐ช̄. Kajian ini menelaah kecenderungan kritik dalam diskursus ilmu kalam melalui pemikiran Najmuddin al-Kฤtibฤซ, seorang logikus abad ke-7 Hijriyah dari Qazvin, Persia (Iran), wilayah yang pada masanya menjadi simpul pertemuan tradisi intelektual Asia Tengah dan dunia Islam.
Topik ini terdengar seperti makanan berat yang disajikan tanpa sendok. Tetapi di era modern, ketika manusia bisa memesan makanan lewat aplikasi namun ragu memesan keyakinan kepada Tuhan, kajian seperti ini justru mendesak. Kita mungkin menjauh dari logika dan teologi; para ulama klasik justru menjadikannya fondasi.
Promovendus mengkaji bagaimana al-Kฤtibฤซ merumuskan keyakinan secara rasional sekaligus kontekstual. Ia meneliti metodologi kritik dalam isu-isu klasik: eksistensi Tuhan, sifat-sifat-Nya, penciptaan, perbuatan manusia, kenabian, eskatologi, status muslim-kafir, hingga kepemimpinan politik.
Metodologi tersebut kemudian diterapkan pada filsafat modern dan pada konteks Islam Indonesia, termasuk pada pemikiran Syaikh Nawawi al-Bantani. Dengan kata lain, ia tidak sekadar membuka kitab lama; ia menyalakan lampu terang di ruang tamu zaman sekarang.
Dewan penguji yang dipimpin Prof. Dr. Hassan Muharram al-Huwaini bersama para profesor senior Al-Azhar memberikan apresiasi aklamatif. Prof. Abdel Ghani Thaha menilai disertasi ini kuat dari segi konsep, pendekatan ilmiah, dan referensi, sembari mengingatkan pentingnya keseimbangan rasionalitas dan tekstualitas.
Prof. Ragab Mahmud Khedr memberi 31 catatan jumlah yang cukup untuk membuat mahasiswa biasa berpikir pindah jurusan. Namun ia tetap menegaskan kualitasnya yang tinggi dan layak dibaca para pelajar kajian Islam. Ia bahkan berseloroh bahwa luasnya pembahasan memaksanya membaca dua jilid tebal itu sampai kelelahan, komentar yang memancing tawa hadirin sidang disertasi.
Najmuddin al-Kฤtibฤซ al-Qazwฤซnฤซ (w. 675 H/1277 M) adalah ulama, logikus, dan teolog besar Persia yang hidup pada masa pertemuan intens antara filsafat Yunani, teologi Islam, dan rasionalisme. Ia menjadi figur penting dalam tradisi logika (๐ฎ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฒ), filsafat, dan ilmu kalam pada periode pasca-Ibnu Sina masa ketika sarjana Muslim berusaha menata ulang hubungan rasio, wahyu, dan argumen filosofis.
Siang hari para ulama mengajarkan logika; malam hari ngaji teologi. Dalam tradisi keilmuan Islam klasik, logika bukan sekadar pelajaran formal, tetapi alat metodologis untuk memahami akidah, hukum, tafsir, dan debat teologis. Karya al-Kฤtibฤซ menjadi rujukan utama madrasah dan pesantren selama berabad-abad.
Karyanya yang diajarkan di pesantren, ๐ข๐ญ-๐๐ช๐ด๐ข̄๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ญ-๐๐ฉ๐ข๐ฎ๐ด๐ช๐บ๐บ๐ข๐ฉ ๐ง๐ช ๐ข๐ญ-๐๐ข๐ธ๐ข̄‘๐ช๐ฅ ๐ข๐ญ-๐๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ฒ๐ช๐บ๐บ๐ข๐ฉ, menjadi teks standar logika di dunia Islam dari Mesir, Turki, Persia, India, hingga Nusantara. Isinya meliputi konsep dan definisi (๐ต๐ข๐ด๐ข๐ธ๐ธ๐ถ๐ณ), proposisi dan penilaian logis (๐ต๐ข๐ด๐ฉ๐ฅ๐ช๐ฒ), silogisme (๐ฒ๐ช๐บ๐ข๐ด), penalaran deduktif dan induktif, serta kesalahan berpikir.
Kitab ini tidak sekadar menjelaskan logika Aristotelian, tetapi menyederhanakan dan menstrukturkannya sehingga mudah diajarkan. Karena itu, banyak ๐ด๐บ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ dan ๐ฉ๐ข๐ด๐บ๐ช๐บ๐ข๐ฉ ditulis atasnya. Ia menjadi “tata bahasa berpikir” bagi ulama. Sebagaimana nahwu menjaga bahasa, logika menjaga akal dari kesalahan berpikir.
Aunul Abied menulis disertasinya mengkaji ๐ข๐ญ-๐๐ถ๐ง๐ข๐ด๐ด๐ฉ๐ข๐ญ ๐ง๐ช̄ ๐๐ฉ๐ข๐ณ๐ฉ̣ ๐ข๐ญ-๐๐ถ๐ฉ̣๐ข๐ด̣๐ด̣๐ข๐ญ, karya al-Kฤtibฤซ yang mengulas dan mengembangkan teologi rasional dalam tradisi kalam. Lalu, kitab ๐̣๐ช๐ฌ๐ฎ๐ข๐ต ๐ข๐ญ-‘๐๐บ๐ฏ, yang membahas persoalan metafisika, eksistensi, kosmologi, dan struktur realitas.
Juga, karyanya ๐ข๐ญ-๐๐ถ๐ฏ๐ข๐ด̣๐ด̣๐ข๐ด̣ ๐๐บ๐ข๐ณ๐ฉ̣ ๐ข๐ญ-๐๐ถ๐ญ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ด̣, yang menampilkan penjelasan sistematis terhadap persoalan-persoalan ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ (teologis) dan ๐ง๐ข๐ญ๐ด๐ข๐ง๐ข๐ฉ (filsafat). Karya-karya ini memperlihatkan kedalaman analisis, ketelitian metodologis, dan keberanian intelektual dalam merumuskan keyakinan secara argumentatif.
Melalui karya-karya tersebut, tampak bahwa pembahasan akidah dalam tradisi Islam tidak pernah dimaksudkan sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai upaya memahami kebenaran secara rasional, sistematis, dan dialogis dengan realitas intelektual zamannya.
Aunul Abied mempersembahkan karyanya kepada para guru sejak masa kecil hingga doktoral. Ia ๐ฎ๐น๐๐บ๐ป๐ถ ๐๐ ๐ ๐๐ผ๐ป๐๐ผ๐ฟ, pernah mengaji fikih dan hadits kepada Prof. Dr. Ali Jum’ah dan Prof. Thaha Rayyan, belajar filsafat kepada Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Ahmad al-Tayyeb, bahkan pernah mendampingi kunjungan beliau ke Indonesia.
Ia juga mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, mengajarkan ๐๐ข๐ฌ๐ต๐ถ๐ฃ๐ข๐ต ๐๐ฎ๐ข๐ฎ ๐๐ข๐ฃ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ช dan sesekali ๐๐ญ-๐๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ๐ข๐ต ๐ข๐ญ-๐๐ข๐ฌ๐ฌ๐ช๐บ๐ข๐ฉ. Di Ma’had Aly Situbondo, ia mengajar ๐๐ญ-๐๐ถ๐ฎ๐ข’ karya al-Asy‘ari, _๐๐ญ-๐๐ฒ๐ต๐ช๐ด๐ข๐ฅ ๐ง๐ช ๐ข๐ญ-๐‘๐ต๐ช๐ฒ๐ข๐ฅ karya al-Ghazali, hingga teks-teks filsafat dan kalam klasik.
Padanya, dunia akademik dan tasawuf bertemu dalam satu tubuh, seperti kopi pahit yang berteman dengan gula aren. Yang menarik: setelah meraih pengakuan akademik tertinggi di Al-Azhar, ia kembali ke desa. Mengajar. Membina pesantren. Tidak pindah ke ibu kota, tidak menjadi influencer spiritual dengan paket berbayar.
Madura sebenarnya tidak asing melahirkan tokoh berkelas dunia. Ada Mun’im Sirry, alumnus Al-Amien Prenduan Sumenep, kini profesor di University of Notre Dame, Indiana, dengan karya-karya akademik yang dibaca global. Namun ia bukan kyai pesantren; ia akademisi diaspora.
Sebaliknya, doktor Al-Azhar dari Torjun ini memilih menjadi ulama lokal dengan resonansi global. Di sinilah letak keistimewaannya. Ilmu kalam yang dikajinya bukan sekadar debat metafisik; ia menjawab penyakit zaman: manusia hidup dalam era informasi tetapi kehilangan orientasi makna.
Kita hari ini bisa mengetahui suhu Mars secara real-time, namun tak tahu arah hidup sendiri. Ateisme dan agnostisisme modern sering lahir bukan dari kedalaman berpikir, melainkan dari kelelahan spiritual dan kebingungan epistemologis. Ilmu kalam klasik sebenarnya menyediakan perangkat rasional untuk menjawab kegelisahan itu, tetapi perlu direkonstruksi agar dapat berbicara kepada manusia abad digital.
Apa yang dilakukan kyai dari Torjun ini adalah membuka kembali percakapan antara iman dan rasio, antara tradisi dan modernitas, antara teks dan konteks. Ia tidak menolak modernitas, tetapi juga tidak menyerah kepada relativisme yang membuat semua kebenaran terasa seperti opini di kolom komentar.
Kita hidup di masa ketika orang lebih percaya algoritma daripada ulama, lebih yakin pada rating aplikasi daripada hikmah kitab. Namun dari sebuah desa di Sampang, seorang kyai menulis 847 halaman untuk mengingatkan bahwa iman tidak harus anti-rasio, dan rasio tidak harus anti-iman.
Prestasi ini bukan sekadar kebanggaan Madura. Ia pengingat bahwa peradaban tidak dibangun hanya di pusat kekuasaan, tetapi juga di pinggir desa, di ruang pengajian kecil, di tangan guru yang mengajar tanpa kamera.
Barangkali dunia modern memerlukan lebih banyak profesor. Tetapi dunia yang gelisah memerlukan lebih banyak kyai yang pulang.
Dan mungkin, di zaman ketika manusia sibuk mencari Tuhan di mesin pencari, seorang kyai desa justru mengajarkan bahwa Tuhan tidak hilang yang hilang hanyalah keheningan untuk mendengar-Nya.
๐๐ฎ๐ธ ๐๐ง = ๐๐ต๐บ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ฒ ๐ง๐ต๐ฎ๐ต๐ฎ
๐๐ข'๐ฉ๐ข๐ฅ ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฃ๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ข๐ญ-๐๐ถ๐ณ'๐ข๐ฏ

Tidak ada komentar :
Posting Komentar