"๐๐ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ. ๐๐ฌ๐ฐ๐ณ 147 ๐ฌ๐ฆ๐ธ๐ข๐ซ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข ๐ท๐ด 7 ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐๐. ๐๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ช๐ด๐ข๐ด๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ช๐ฉ๐ข๐ฌ? ๐๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฐ๐ข๐ญ ๐ต๐ข๐ณ๐ช๐ง, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฐ๐ข๐ญ ๐ณ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ซ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ". ๐๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ฌ ๐๐...
Jika seluruh rangkaian perjanjian dagang resiprokal (ATR) antara Amerika Serikat dan Indonesia dibaca seperti membaca novel geopolitik, maka kita sampai pada bab yang paling menggelitik sekaligus menggetarkan: daftar larangan. Atau bisa juga disebut daftar keharusan untuk tidak begini-begitu.
Bukan larangan makan sebelum berbuka, bukan larangan parkir di trotoar, melainkan larangan kebijakan yang dibebankan atas negara kita yang berdaulat, yang dirangkai rapi dalam bahasa hukum internasional yang sopan, steril, dan dingin.
Di titik inilah diplomasi ekonomi modern terasa seperti buku manual ekspor bagi negara berkembang lengkap dengan petunjuk apa yang boleh dilakukan dan apa yang seharusnya tidak disentuh.
Setelah menelusuri teks perjanjian ATR AS-RI secara utuh setebal 45 halaman, saya berkesimpulan bahwa pembatasan kebijakan terhadap Indonesia bukan sekadar “belasan” larangan teknis.
Secara tekstual, istilah hukum paling gamblang seperti ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต muncul sekitar 147 kali yang dibebankan pada Indonesia, sementara kewajiban yang secara eksplisit dibebankan kepada Amerika Serikat hanya sekitar 7 kali.
Rasio ini betul tidak otomatis menentukan dampak setiap klausul, tetapi cukup memberi gambaran tentang arah harmonisasi kebijakan yang diminta dan siapa yang lebih banyak menyesuaikan diri. Dalam bahasa pertandingan, RI kalah telak.
Bahasa dokumen memang seringkali tidak pernah memakai kata “dilarang.” Ia memilih frasa yang lebih sopan namun tegas dan terang benderang: ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ฆ, ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต ๐ณ๐ฆ๐ฒ๐ถ๐ช๐ณ๐ฆ, ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ท๐ฆ, ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฆ๐น๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ต.
Dalam diplomasi, kesopanan sering kali bentuk lain dari ketegasan. Larangan disampaikan dengan nada ramah, seperti petugas hotel yang berkata, “Untuk kenyamanan bersama, tamu tidak diperkenankan…” padahal konsekuensinya nyata.
Mari kita lihat beberapa contoh yang paling mencolok dengan memperhatikan kata yang dipakai, sering seperti "๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ".
Salah satu larangan yang paling simbolik berkaitan dengan pajak digital. “๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ด๐ฆ ๐ฅ๐ช๐จ๐ช๐ต๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ท๐ช๐ค๐ฆ๐ด ๐ต๐ข๐น๐ฆ๐ด…” ("Indonesia tidak boleh mengenakan pajak layanan digital yang menyasar perusahaan AS.")
Di era ketika platform global memperoleh miliaran dolar dari perhatian dan data pengguna Indonesia, klausul ini memastikan negara kita tidak dapat mengenakan pajak khusus seperti yang dilakukan India, Prancis, atau Kanada.
Data boleh mengalir keluar. Nilai ekonomi boleh mengalir keluar. Pajak digital? Tidak boleh. Ini seperti membiarkan warung ramai pembeli, tetapi melarang pemilik warung menaruh kotak kasir.
Larangan berikutnya menyentuh arus data lintas negara: “…๐ฆ๐ฏ๐ด๐ถ๐ณ๐ช๐ฏ๐จ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ง๐ฆ๐ณ ๐ฐ๐ง ๐ฅ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐บ ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ค๐ต๐ณ๐ฐ๐ฏ๐ช๐ค ๐ฎ๐ฆ๐ข๐ฏ๐ด…” Implikasinya: Indonesia tidak boleh mewajibkan lokalisasi data sebagai syarat layanan.
Data warga dapat disimpan di server luar negeri tanpa kewajiban penyimpanan domestik. Padahal, di abad ke-21, data adalah minyak baru. Kita memiliki ladangnya. Kilangnya berada di luar negeri.
Kemudian terdapat larangan kewajiban alih teknologi: “…๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต ๐ณ๐ฆ๐ฒ๐ถ๐ช๐ณ๐ฆ ๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ง๐ฆ๐ณ ๐ฐ๐ง ๐ต๐ฆ๐ค๐ฉ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐จ๐บ, ๐ด๐ฐ๐ถ๐ณ๐ค๐ฆ ๐ค๐ฐ๐ฅ๐ฆ, ๐ฐ๐ณ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฑ๐ณ๐ช๐ฆ๐ต๐ข๐ณ๐บ ๐ฌ๐ฏ๐ฐ๐ธ๐ญ๐ฆ๐ฅ๐จ๐ฆ…” Jelas bahwa Indonesia tidak boleh mensyaratkan transfer teknologi sebagai syarat berbisnis.
Dalam sejarah industrialisasi, negara-negara Asia Timur membangun kekuatan teknologi melalui transfer pengetahuan. Klausul ini menutup jalan tersebut. Teknologi boleh digunakan. Rahasianya tetap milik mereka.
Berikutnya, ATR AS-RI mengenakan larangan terhadap kandungan lokal: “…๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฆ๐น๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ต ๐. ๐. ๐ค๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ช๐ฆ๐ด… ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฎ ๐ญ๐ฐ๐ค๐ข๐ญ ๐ค๐ฐ๐ฏ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต ๐ณ๐ฆ๐ฒ๐ถ๐ช๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ด” Artinya: perusahaan AS tidak wajib menggunakan komponen lokal.
Jika TKDN selama ini merupakan alat industrialisasi, maka klausul ini mencabut alat tersebut untuk satu pihak tertentu. Lapangan industri tetap terbuka. Rantai pasok domestik tidak dijamin ikut tumbuh.
Berikutnya, larangan pembatasan impor bioetanol: “๐๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ด๐ช๐ข ๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต ๐ข๐ฅ๐ฐ๐ฑ๐ต ๐ฐ๐ณ ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ช๐ฏ ๐ข๐ฏ๐บ ๐ฎ๐ฆ๐ข๐ด๐ถ๐ณ๐ฆ ๐ต๐ฉ๐ข๐ต ๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ท๐ฆ๐ฏ๐ต๐ด ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ต ๐ฐ๐ง ๐. ๐. ๐ฃ๐ช๐ฐ๐ฆ๐ต๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฐ๐ญ.”
Indonesia tidak boleh membuat kebijakan yang menghambat impor bioetanol AS. Energi alternatif pun memiliki pasal perlindungan pasar.
Ada pula larangan pembatasan barang rekondisi: “…๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ท๐ฆ ๐ข๐ฏ๐บ ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ต ๐ณ๐ฆ๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ด ๐ฐ๐ฏ ๐. ๐. ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ง๐ข๐ค๐ต๐ถ๐ณ๐ฆ๐ฅ ๐จ๐ฐ๐ฐ๐ฅ๐ด…” Barang rekondisi dari AS harus dapat masuk tanpa hambatan. Bagi konsumen: lebih murah. Bagi industri muda: kompetisi dini.
Larangan penggunaan regulasi sanitari sebagai penghalang perdagangan: “…๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฏ๐ฐ๐ต ๐ฐ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ต๐ฆ ๐ข๐ด ๐ฅ๐ช๐ด๐จ๐ถ๐ช๐ด๐ฆ๐ฅ ๐ณ๐ฆ๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ค๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ๐ด ๐ฐ๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ญ ๐ต๐ณ๐ข๐ฅ๐ฆ.” Standar kesehatan tidak boleh digunakan sebagai pelindung pasar domestik.
Anda juga sudah tahu, ada larangan kewajiban halal untuk kategori tertentu: “…๐ด๐ฉ๐ข๐ญ๐ญ ๐ฆ๐น๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ต ๐ฏ๐ฐ๐ฏ-๐ข๐ฏ๐ช๐ฎ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ณ๐ฐ๐ฅ๐ถ๐ค๐ต๐ด… ๐ง๐ณ๐ฐ๐ฎ ๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ญ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ง๐ช๐ค๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ…” Regulasi halal tidak boleh diberlakukan pada kategori produk tertentu. Standar keagamaan bertemu disiplin perdagangan.
Jika dirangkum, daftar larangan kebijakan tersebut mencakup antara lain:
– tidak boleh pajak digital
– tidak boleh lokalisasi data
– tidak boleh mewajibkan transfer teknologi
– tidak boleh menerapkan TKDN pada perusahaan AS
– tidak boleh menghambat impor bioetanol
– tidak boleh membatasi barang rekondisi
– tidak boleh menggunakan standar teknis sebagai proteksi terselubung
– tidak boleh mewajibkan sertifikasi halal untuk kategori tertentu
– tidak boleh mengenakan bea pada transmisi digital
– tidak boleh membatasi arus data lintas negara
– tidak boleh memaksakan spesifikasi domestik tertentu
Jika dihitung secara substansi, pembatasan ini membentuk sekitar belasan instrumen kebijakan strategis, namun secara tekstual ia berada dalam jaringan kewajiban yang jauh lebih luas.
Semua ini dibungkus dalam semangat perdagangan bebas dan efisiensi pasar. Dan memang, dari perspektif ekonomi liberal, penghapusan hambatan meningkatkan efisiensi, menurunkan harga, dan memperluas pilihan konsumen.
Namun dari perspektif pembangunan negara, setiap larangan tersebut adalah alat kebijakan yang tidak lagi tersedia. Negara tetap bebas membuat kebijakan. Hanya saja, kotak peralatannya kini lebih ringan.
Yang membuat ATR AS-RI terasa “terlalu Amerika” bahkan terlalu Trumpian adalah logika di baliknya: pasar harus terbuka, perusahaan harus bebas, teknologi harus dilindungi, dan kebijakan domestik tak boleh menghambat ekspansi ekonomi global.
Ini bukan ideologi baru. Ini adalah ekspor filosofi pasar bebas dengan pengamanan maksimal bagi kepentingan nasional Amerika sendiri. Perdagangan bebas, tetapi dengan pagar pengaman strategis yang dipaksakan pihak Amerika.
Jika gaya retorika politik Amerika sering terdengar seperti, “๐๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ช๐ค๐ข ๐๐ช๐ณ๐ด๐ต,” maka dalam bahasa perjanjian dagang modern, kalimat itu diterjemahkan menjadi: pasar terbuka untuk semua, tetapi keunggulan strategis tetap milik kami.
Ini bukan retorika kampanye. Ini arsitektur kebijakan.
Namun perlu dicatat: tidak semua pembatasan ini otomatis merugikan. Banyak yang meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kepastian investasi. Banyak yang mendorong integrasi ekonomi global. Banyak yang melindungi konsumen.
Masalahnya bukan pada satu klausul. Masalahnya pada akumulasi. Satu larangan mungkin efisien. Sepuluh larangan membentuk struktur. Seratus kewajiban membentuk arah kebijakan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal aturan rumah tangga: boleh melakukan apa saja selama tidak melanggar larangan tertentu. Semakin banyak larangan, semakin sempit ruang improvisasi.
Negara modern juga demikian. Kebijakan publik bukan hanya tentang apa yang boleh dilakukan, tetapi tentang apa yang tidak lagi bisa dilakukan.
Puasa mengajarkan pengendalian diri. Perjanjian perdagangan mengajarkan pengendalian kebijakan. Yang satu spiritual, yang lain struktural. Di antara keduanya, bangsa kita mesti belajar hidup dalam batas yang dipaksakan bangsa Amerika.
Namun sejarah menunjukkan: batas tidak selalu penjara. Ia bisa menjadi tantangan untuk inovasi. Ketika satu pintu kebijakan tertutup, boleh jadi negara dipaksa mencari jalan lain.
Ketergantungan dapat memicu kreativitas. Keterbatasan dapat melahirkan strategi, seperti dilakukan bangsa Iran.
Dan mungkin, di balik daftar larangan yang panjang dan terasa terlalu Amerika itu, tersimpan satu pertanyaan yang lebih penting: apakah kita akan menjadi bangsa yang sekadar mengikuti aturan permainan global, atau bangsa yang belajar memenangkan permainan dengan aturan yang ada?
Tragedi bisa menjadi guru. Keterbatasan bisa menjadi strategi. Larangan bisa menjadi undangan untuk berpikir lebih cerdas.
Dan di negeri yang gemar menyiasati jalan tikus ketika jalan tol macet, kreativitas mungkin masih menjadi sumber daya alam paling melimpah.
Cak AT = Ahmadie Thaha.
๐๐ข'๐ฉ๐ข๐ฅ ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฃ๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ข๐ญ-๐๐ถ๐ณ'๐ข๐ฏ

Tidak ada komentar :
Posting Komentar